Hari
ketiga, Jumat jam 3 sore, kami berangkat dari Binaka Gunung Sitoli menuju
Medan. Pesawat yang kami tumpangi sempat delay sekitar 1 jam sehingga kami
harus menunggu di bandara. Sembari
menunggu, Pendra menghubungi agen travel yang akan membawa kami ke Tangkahan.
Pukul 16.15 wib kami take off dari Bandara Binaka Gunung
Sitoli. Perjalanan selama 50 menit akhirnya membawa kami sampai Kualanamu.
Setiba
disana, kami dijemput Agung perwakilan dari Campa tour menuju penginapan di
Medan. Untuk memudahkan perjalanan, Agung menyewa tempat yang dekat lokasi
mengingat daerah kampung Lalang yang akan dilalui besok akan macet.
Pagi
hari, tim berangkat menuju tangkahan mengendarai mobil menuju Tangkahan.
Perjalanan selama itu membuat kami kelelahan dan tertidur sebentar ketika dalam
perjalanan.Menuju tangkahan dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 5 sampai 6 jam
dengan mengendarai mobil atau sepeda motor dari kota Medan. Untuk jaraknya
sendiri relatif dekat yaitu 180 km.
Akses menuju terbilang mengocok perut, terutama di daerah Perkebunan
Nusantara 2. Jalan beraspal hanya sampai di Simpang Mangga. Selebihnya sekitar
17 km dilalui dengan jalan kebun yang berbatu, licin, berlubang dan banyak
binatang peliharaan warga terutama sapi disepanjang jalan. Jika musim hujan,
jalan ini akan sulit dilalui kecuali dengan kenderaan mobil off road dan sepeda motor.
Saat
itu kami mengendarai mobil xenia milik Henry. Henry sudah memiliki pengalaman
dalam berkendara. Ia sudah menjadi supir rental selama 15 tahun. Mobil Xenia
miliknya telah dimodifikasi khusunya bagian ban yang berukuran besar sehingga
tidak mengkhawatirkan ketika kenderaan masuk kedalam lubang. Mobil miliknya
cukup melaju kencang ketika berada di jalan perkebunan.
Dalam
perjalanan ada perubahan arah karena ada perbaikan jembatan sehingga kami harus
masuk ke dalam perkebunan. Jalan yang dilalui
berada diantara tanaman sawit. Memang mobil bukan off road, kenderaan
kami sempat terjerembab dalam lubang yang licin. Henry mencoba keahliannya
dalam menyetir namun belum bisa keluar. Kami mencoba membantu dengan memasukkan
batang sawit kering kebawah ban agar ban mendapat gesekan dan keluar. Namun
tetap saja tidak bisa. Selang berapa lama, salah satu supir yang membawa Turis Bule berhenti dan membantu kami
mendorong mobil. Dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil dapat keluar dan kami
melanjutkan perjalanan. Jalan kebun begitu membingungkan karena banyak jalan
bercabang dan tidak memiliki tanda. Jika
ingin ketangkahan sebaiknya bersama orang yang paham akan lokasi agar tidak
kesasar dan menghabiskan banyak waktu dijalan.
Tangkahan
dengan luas 792.675 Ha merupakan ekowisata yang letaknya berada di Desa Namo
Sialang, Kec. Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
Selain menggunakan kendaraan pribadi, transportasi umum juga ada dengan nama
Bus Pembangunan Semesta (PS) jurusan Sawit Seberang. Rutenya mulai dari Terminal
Pinang Baris, Kampung Lalang, Binjai, Stabat dan masuk Ke Desa Sawit seberang
dan terakhir menuju Desa Namo Sialang, Kec. Batang Serangan. Ongkosnya sekitar
Rp 30.000,-/trip. Namun, untuk ke Tangkahan masih ada 5 km lagi dari Desa Namo
Sialang. Selepas dari Desa Namo Sialang akan ada mobil/ojek yang akan membawa
langsung menuju kantor CTO (Community Tour Operator). Agar lebih mudah dan
nyaman, gunakanlah travel agen di Medan yang menyediakan transportasi dan
akomodasi untuk kesana seperti Dream land Resort.
![]() |
Balu Bridge. Jembatan penyeberangan menuju penginapan |
Setibanya
di Tangkahan, kami harus melewati jembatan gantung (Balu Bridge) sepanjang 1.5
km menuju Café and Resort Dream Land milik Suka Ginting. Jembatan ini
memisahkan tanah Perkebunan Nusantara 2 dengan tanah masyarakat berada di
seberangnya. Dibawah jembatan mengalir dua pertemuan sungai berair jernih
kehijauan dengan hiasan batu-batu besar di tepian hutan. Ia adalah Sungai Kuala
Bulu dan Sungai Batang Serangan.
Jembatan
balu memiliki beban maksimal 6 orang. Jika lebih jembatan akan bergoyang kanan
kiri. Ini membuat bahaya bagi orang yang berjalan. Jembatan diberi pagar sampai sepinggang orang
dewasa dengan tali pengait kanan dan kiri untuk menjaga keseimbangan.
Dimasing-masing ujung jembatan ditarik dengan menggunakan tali besi untuk
menjaga keseimbangan. Sementara pijakan terbuat dari papan. Untuk melewati Balu
Bridge setiap penyeberang dikenakan tarif sebesar Rp.10.000 per orang.
Kami
langsung dibawa ke Resort miliknya bernama Dream Land. Resort ini masih
terbilang baru karena baru beroperasi awal tahun 2015. Jaraknya sekitar 1 km
dari CTO. Resort dengan 3 pintu dan 1 Café dikelola secara bersama oleh
saudaranya bernama Ucok dan Caca. Untuk desainnya sendiri mengikuti Eropa dan
bahan bangunan mengikuti Nature. Jalan
menuju ke Dream land dan resort lain terhubung satu sama lain. Artinya jalan
yang kita lalui setelah melewati jembatan akan kita temui resort lain seperti Mega
Inn, Dream Land dan Jungle Lodge. Dream land berada di sebelah kanan setelah
Mega Inn tetapi sebelum Jungle Lodge. Suasana Dream Land sungguh membawa kesan
Back to nature. Suara deburan air, bunyi
jangkrik, binatang lain terdengar dari penginapan. Dream Land tepat berada di
pintu masuk menuju Hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Café Dream Land berada
di bukit tepat ditepi sungai berhadapan
dengan hutan Leuser dengan ketinggian 10 meter.
Kami
menempati kamar ‘Moon’ berada
diantara kamar lainnya. Setelah meletakkan barang bawaan, kami menuju café
untuk makan siang. Ketika berada di kafe, kami dapat melihat sungai dari atas
ditemani dengan suara hewan dari hutan Leuser. Sesi paling menarik di café
Dream Land menjelang sore hari. Jika memang bernasib baik, akan ada sekumpulan
keluarga si amang (monyet bermuka rata) turun dari pohon duduk ditepian pantai.
Juga hewan biawak berjalan menyisir pantai.
Sekitar
pukul 14.00 wib kami melanjutkan petualangan dengan masuk kedalam hutan Leuser
(Tracking). Perjalanan akan ditempuh kurang lebih 2 jam bahkan lebih tergantung
jumlah biaya yang dikeluarkan. Untuk tracking selama 2 jam akan dikenakan biaya
Rp. 200.000 per orang. Sebagai guide, orang lokal menyebutnya sebagai Ranger.
Sebutan Ranger berawal dari komunitas pecinta alam yang singgah ke
Tangkahan. Saat itu rentang tahun 1980 sampai 1990-an, masyarakat di sekitar
Tangkahan dulunya giat membalak kayu hutan yang berasal dari Taman Nasional
Gunung Leuser. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat kemudian
sadar akan kerusakan dan kesalahan yang telah mereka perbuat. Atas kesepakatan
bersama masyarakat di Tangkahan kemudian memutuskan untuk menghentikan
pembalakan kayu ilegal dari dalam kawasan Leuser dan mengembangkan kawasan
ekowisata Tangkahan. Semua ini tidak terlepas dari mahasiswa pecinta alam
bernama Ranger. Pada tahun 2001,
masyarakat Tangkahan berkumpul dan menyepakati peraturan desa yang melarang
segala aktivitas ilegal dan mendirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan.
Informasi penting, Tangkahan
menyajikan hutan sangat lebat. Ber-khas hutan pantai dan hutan hujan tropika,
hutan ini pun masih perawan. Di dalamnya terdapat beberapa sungai, sumber air
panas, lembah, dan air terjun. Ekosistem alamnya sangat indah dan beragam,
meliputi dataran rendah (pantai) hingga pengunungan.
Menyusuri sungai jernih yang
dangkal, Anda akan menemukan taman kupu-kupu dan air terjun nan indah.
Jernihnya air akan menghipnotis untuk berlama-lama di dalamnya. Tidak
hanya air dingin, di kawasan Tangkahan juga terdapat sebuah sumber air panas
yang besarnya seukuran bak mandi. Sumber air panas yang berada di gua tepi
sungai ini hanya cukup untuk berendam satu orang.
Tracking
merupakan salah satu item dari beberapa destinasi di Tangkahan. Selain tracking,
ada tubing (mengaliri air sungai dengan ban), Memandikan gajah Sumatera, dan Tracking(menyusuri
hutan) dengan naik gajah.
Tracking
:
Untuk
melakukan tracking perlu tenaga ekstra. Selain tenaga diperlukan juga
keberanian dan tekad kuat. Karena jalan yang dilalui tentu jalan hutan dengan
tantangan tersendiri. Kami memulainya dari Cafe Dream land menuju sungai
dibwahnya lalu menyeberang sungai dangkal dan masuk kedalam hutan. Spot pertama
adalah air terjun sedikit masuk ke dalam hutan. Jalan yang dilalui bisa dari
bawah atau dari atas. Sesekali tim ingin mengabadikannya dari atas. Untuk
melihat spot dari atas kami harus mendaki melewati semak belukar. Jalan sangat
licin dan banyak sekali lintah yang bersembunyi dibalik daun yang jatuh ketanah.
Bukan
hanya satu yang menggigit tetapi puluhan lintah lengket mulai dari jari kaki
hingga masuk kedalam celana pendek yang kami pakai. Saya dan pendra selama
dalam perjalanan ada lebih 10 lintah lengket. Tim cukup risih dengan keberadaan
lintah yang merongrong. Namun, itu adalah tantangan yang harus dilalui untuk
adventure Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Setelah
melihat air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan sedikit mendaki.
Suka memberi kami 2 alternatif pilihan mengenai jalan yang akan dilalui. Yaitu Tracking
dengan jalan cukup landai atau jalan dengan terus mendaki. Kami memilih jalan
yang cukup landai saja. Mengingat kondisi fisik tidak mumpuni dan masih terasa lelah ketika menyusuri hutan
di Nias Selatan melihat Air Terjun Namo. Sepanjang perjalanan, suka mengenalkan
beberapa tanaman hutan. Seperti remuk tualang. Fungsi tanaman ini adalah
sebagai obat menurunkan panas badan bagi anak anak. Lalu Tanaman Cep cepan.
Gunanya untuk obat cacingan dicampur dengan gula aren, dan ditambahkan sedikit
jahe. Cara masak, diambil sedikit kulit kayu Cep Cepan dan diserut. Lalu
dimasukkan dalam rebusan air. Takarannya 1 gelas menjadi setengah gelas.
Kemudian daun gigitan harimau yang bisa dimakan. Saya sempat mencoba
memakannya. Rasa daun terasa asam seperti ketika memakan jeruk nipis. Lalu Ada tanaman
tandelangkup yang tidak akan busuk daunnya. Ketika daun ini putus, ujung batang
yang putus itu akan hidup dan berakar kembali. Juga ada Pohon tualang/kayu raja
(Kompasiana) yang tinggi menjulang
merupakan tempat labah bersarang.
Lagi-lagi
perjalanan kami terganggu dengan gigitan lintah. Kami sempat berhenti
diperjalanan ketika saya lihat kaki saya dipenuhi lintah. Karena saya merasa
risih, saya mencoba untuk melepas mereka. Jumlahnya juga sangat banyak menempel
disela-sela jari bahkan bersembunyi di tali sandal yang kami kenakan. Pendra
juga mengalami hal yang sama. Suka ginting tertawa saja ketika kami gelisah
dalam perjalanan. Suka kemudian membantu kami melepaskan lintah dengan
mengambil langsung dengan tangannya. Lintah memiliki sensor aktif ketika
mencium bau darah manusia. Jalannya sangat cepat seperti melompat dari satu
daun ke daun lainnya.
Setelah
menyusuri hutan, kami akhirnya tiba di tepian sungai glugur. Tempat ini
merupakan spot menarik untuk mengambil foto. Selain keindahan air yang dangkal
berwarna kehijauan, disini pula taman kupu-kupu berada. Kupu-kupu terlihat
bermain ditepian pantai. Sesekali berhenti dan terbang lagi ketika ada suara
atau gerakan yang mengusik.
Setelah
puas mengambil gambar kami lanjutkan perjalanan menyisir pantai menuju
pemandian air panas. Air panas di Tangkahan berada di gua seberang sungai. Jika
ingin kesana haruslah menyeberangi sungai dengan berenang ketika area dalam
atau hanya cukup berjalan dari hulu.
Air
panas diapit oleh batuan besar sehingga untuk berendam saja hanya muat untuk 1 orang dewasa. Jika kunjungan
ramai, kami harus secara bergantian untuk menikmatinya. Jika sudah merasakan
air panas tangkahan, cobalah untuk mendinginkan kembali badan dengan berenang
disekitar lokasi. Jika ingin meloncat dan menceburkan diri ke sungai, bisa
melalui batu besar tepat berada di tengah aliran sungai. Batu ini sering di manfaatkan
turis lokal untuk ajang lompatr. Kedalaman air di sekitar lokasi sekitar 3
meter. Untuk yang lainnya sangatlah dangkal.
Setelah
kami berada sekitar 1 jam, kami kembali menuju penginapan Dream land. Dalam
perjalanan pulang, jalan yang kami lalui bercabang. Jika takut tersesat jangan
sungkan untuk bertanya kepada orang yang lewat atau masyarakat sekitar.
![]() |
Beberapa Gajah Sumatera sedang Bathing di sungai |
Penakaran
Gajah Sumatera berada di sekitar perkebunan nusantara 2 milik pemerintah. Jika
ingin kesana harus kembali menyeberangi jembatan gantung ‘Balu Bridge’. Sebelum
menuju kesana kami harus berkunjung sebentar ke kantor CTO (Community Tour
Operator). Untuk melihat Gajah Sumatera masih dalam penakaran, bangunlah di pagi
hari sekitar jam 7. Karena sekitar jam 08.00 wib, gajah tersebut akan mulai
untuk atraksi.
Berjarak sekitar 1 Km dari pintu
masuk ekowisata Tangkahan (CTO), kami mendapati 7 ekor gajah. Jenis betina
sebanyak 5 ekor dan 1 ekor jenis pejantan. Mereka masing- masing di beri nama
Ardana, Olive, Agustin, Yuni dan Eva untuk kelamin betina. Usia paling muda
bernama olive sekitar 17 tahun. Untuk kelamin jantan diberi nama Teo berusia 28
tahun. Berada didalam kandang terbuka dengan pagar kawat dialiri listrik seluas
1 rantai, kami menyaksikan hewan
tersebut sedang memakan batang pohon sawit. Gajah-gajah ini berasal dari KSDA
Aceh sebanyak 4 ekor dan 3 ekor lainnya dari tangkapan di Tangkahan. Masih ada
satu kawanan gajah liar di hutan TNGL yang masih bebas sekitar 6 ekor.
Masyarakat di Tangkahan kini
bekerjasama dengan LSM mengembangkan kegiatan wisata alam dengan memanfaatkan
jasa gajah. Saat ini, gajah-gajah yang berada di kawasan wisata tangkahan sudah
dimanfaatkan untuk patroli safari hutan. Bahkan gajah tersebut saat ini sudah
menjadi sebuah ikon wisata.
Para wisatawan yang berkunjung
dapat menikmati perjalanan keliling hutan dengan menunggangi gajah patroli yang
telah dilatih. Gajah-gajah tersebut bertugas untuk berkeliling menjaga hutan
dari ancaman praktek ilegal logging yang dilakukan pihak pembalak. Namun
sekarang, pengunjung dapat berwisata
dengan berjalan-jalan mengitari aliran sungai.
Aktifitas
Gajah terdiri dari Elephant Bathing,
elephant Feeding dan Elephant Riding. Untuk Elephant Bathing, wisatawan
dapat memandikan gajah menggunakan sikat yang biasa dipakai menyikat pakaian.
Aktivitas kedua adalah elephant Feeding (meberi makan). Setelah memandikan
gajah wisatawan dapat memberinya makanan 1 plastik asoy berisi potongan
jagung, labu, tebu, dan pisang. Tim ID diberi kesempatan untuk Feeding gajah.
Dengan lelucon saya letakkan makanan di atas kepala. Gajah tidak meraihnya
dengan belalalinya. Saya coba lagi seperti demikian tetap tidak diambilnya.
Akhirnya saya pegang pisang lalu saya angkat keatas, Teo meraihnya. Gajah
diajarkan oleh Mahout untuk tidak mengambil makanan selain dari tangan.
Menakjubkan. Selanjutnya, elephant Riding dilakukan setelah gajah kembali ke
penakaran selama 30 menit untuk makan.
Adapun
Tarif untuk Elephant Bathing dan Feeding
dikenakan tarif Rp. 250.000 per orang. Jika ingin sekaligus alias Bathing, Feeding dan Riding bersama
gajah (berjalan-jalan mengitari aliran sungai) akan dikenakan tarif Rp. 650.000
per orang.
Destinasi
treking gajah paket 1 jam mulai dari sungai Batang Serangan menuju sungai Bulu.
Dan paket 3 jam menuju gua kambing masuk ke dalam hutan.
Tubing
![]() |
Tubing merupakan jelajah sungai menggunakan ban dipandu Ranger |
Kegiatan Tubing adalah mengarungi
sungai Kuala Buluh dan Sei Batang Serangan yang terdapat di Tangkahan. Mengarungi
sungai menggunakan ban merupakan pengalaman yang mengasyikan. Tubing hampir sama dengan rafting, bedanya jika pada saat
rafting kita menggunakan perahu karet, tidak demikian dengan tubing. Kita akan
duduk di atas ban dalam truk yang sangat besar dan telah dipompa, lalu mengalir
begitu saja mengikuti arus sungai sampai ke titik tertentu sambil menikmati
pemandangan di tepi sungai.
Seperti
wisatawan lain, kami juga tidak melewatkan sensasi Tubing karena masih dalam
satu paket Tour. Menjelang sore dihari minggu, suasana tepian sungai tampak
ramai. Banyak dipenuhi turis lokal. Mayoritas turis lokal yang datang berasal
dari Medan. Sebelum tubing, saya melihat rakit
penyeberangan wisatawan lokal berada diantara sungai buluh dan sungai Batang
Serangan. Tarif penyeberangan rakit Rp. 3000 per orang.
Tubing ini
membuat para wisatawan merasa tertantang untuk mengarungi sungai dengan
arus deras dan berbatu. Sungguh akan memacu adrenalin. Jika memiliki pengalaman
dan keberanian tidak perlu menggunakan guide. Karena tarif untuk tubing itu
sendiri sebesar Rp. 200.000 per orang dengan jauh perjalanan selama 30 menit
dengan jasa Guide. Namun, jika sendiri saja hanya cukup menyewa ban sebesar Rp.
15.000. Tentu risiko ditanggung sendiri jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Para guide disini sudah berpengalaman dan terlatih untuk hal keselamatan dan
prosedur standar operasional.

Air Terjun
Glugur sering menjadi destinasi turis lokal dan mancanegara ketika melakukan
tubing
|
Ditengah melakukan tubing, guide
mengajak kita singgah sebentar melihat Waterfall
Glugur. Air terjun
ini tidak terlalu tinggi namun airnya cukup deras untuk menimpa punggung dan
merasakan sensasi seperti ketimpuk batu. Besar debit air Terjun Glugur
dipengaruhi oleh tingkat curah hujan. Artinya jika musim hujan, debit air yang
mengalir akan lebih besar dibanding jika musim kemarau. Setelah menikmati air
terjun Glugur kami melanjutkan tubing kembali dengan sisa waktu 7 menit. Lalu
mulai kembali trekking melewati kebun-kebun sawit dan perumahan penduduk untuk
kembali ke penginapan. Perjalanan cukup melelahkan karena membutuhkan waktu
sekitar 60 menit menuju penginapan.
Tim ID sedang melakukan feeding seekor gajah Sumatera setelah Bathing |
0 comments:
Post a Comment